Selasa, 18 Maret 2008

Ikhwan Pencari Cinta Sejati

Wah..pagi ini indah kawan-kawan, tak pernah kulihat pagi yang seindah pagi ini. Menyejukan,menenangkan, menyenangkan jiwaku yang mungkin terbelenggu dalam ruang gelap ragu.

Huh..capeknnya hatiku kalau sedang begini. Sepi sendiri seakan tak ada yang mau mendekati, seakan tak pernah ada yang perduli betapa aku membutuhkan sebuah sapaan, satu sapaan saja "Feri gimana kabarnya?" dari seseorang yang mungkin sudah lama ku kenal tapi dia tak kunjung memahami diriku.

Memang sih aku tuh kadang tidak konsisten, kadang malas walau kadang aku semangat banget dalam segala hal. Ya namanya juga manusia selalu penuh dengan kelengahan dan sedikit penghargaan. Sudahlah yang penting pagi ini aku bisa menghirup udara pagi yang membawaku berkelana terbang dalam buaian angan untuk kembali ke kampong halamanku sendiri.

"Dor….yeh…ngelamun aja nieeee!" Dadan tiba-tiba mengagetkanku. Sahabat sekamarku ini memang suka jail walau dia terhitung sebagai koki handal Darussalam catering.

"he..he.. " Aku garuk kepalaku "Biasa lagi kangen seseorang!". Ups Seseorang ? Siapa ya? Padahal semua orang di rumah atau mungkin seantero kota tahu bahwa aku tuh gak pernah laku. Sekali suka seseorang pasti terbentur tembok besar yang bernama penolakan…hahahahah…padahal aku kan gak jelek-jelek amat, eit tapi itu kata ibuku lo hihiihi.

"Ayo Ngelamun terus, entar kerasukan setan baru nyaho!" " tahu gak Jin Kairo itu mengerikan lo"

"Ye…tak taku tak takut!" Jawabku menirukan Bahasa melayu.

"Hah…Nak Jin Mati lah….!" Seloroh dadan yang mencekikku.

"Eh BTW kita kemana nih pagi ini minta tanda tangan pernyataan beasiswa?" Tanyaku.

"Gimana kalau kita ke Wabah…?"

"Bukan Wabah sayang….tapi Wahbah."

"Iya iya, yang penting itu lah maksudku"

"JOm kita masak terus mandi atau gak ya enaknya?" HIhihi..gini nih kalau gak ada pemanas air, buat malas mandi pagi.

"madilah, Belegug sia…Bau badanmu tuh sudah menjelajah lewati gedung-gedung dan sungai nihl"

"Coba aku bauin." aku pun mencium bau keteku sendiri "bekh….alamak aku sudah tak tahan baunya."

"tuh kan matilah kau!'

"Nananana..aku mau mandi dulu ah yuhu..!" Aku pun pergi ke kamar mandi sambil bersiul-siul "Senangnyo pagi ini , ambo bisa mandi..hihi" aku pun menirukan bahasa padang yang mana kotanya saja belum pernah ku injak apalagi belajar bahasa sana? Ya biasa, aku suka belajar ke teman-tamanku yang berasal dari sana.

###

"Dadan Ayo Cepat….!"

"Iya iya bentar, aku lagi nyiapain berkas-berkasnya"

Huuh memang kebiasaan ngaret itu seakan tak pernah lekang ditelan jaman. Yups tapi tetap semangat. Bismillah Ya Allah aku akan berjuang berkeliling agar beasiswa ini cepat turun dan aku bisa meringankan beban orang tuaku.

"Yoha…T'ala ya Feri…Bissur'ah!" Ajak Dadan sambil berlari dari dalam Flat.

"Yupa…kita ke mahattah mutsalast yuk"

Berlari ya, beginilah tiap pagi kita lakukan agar tidak tertinggal bus yang mana sumpek plus penuh tiada ampun. Wah pokoknya dempet-dempetan, ya beginilah kalau lagi merantau ke negeri orang…mahasiswa rantau kan senang-senang tapi susah.

Deg…..deg….deg…, Subhanallah siapakaah gerangan bidadari yang turun dari langit ini. Astagfirullahaladzim sepertinya aku terbuai dalam mimpi kembali, seakan-akan aku terbelenggu dalam khayalan tingkat tinggi "Oh…memang pagi ini begitu dahsyat..aku melihat seorang bidadari yang..eeeehh pokoknya cuaaaaantiiiiiik bangeeeeeet" Dalam hatiku "Siapakah namanya? Dimanakah rumahnya? Berapakah no hpnya?" Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu berputar dalam pikiranku. Aku pun terpaku di pagi itu, di tengah-tengah kerumunan orang yang sedang menunggu bis 80 Coret.

Lalu khayalanku pun semakin terbang dan terus terbang, seakan-akan aku seudah berhadapan dengan dia, lalu aku sarungkan cincin di tangannya, lalu aku menikah dengan dia, lalu dan lalu…..

"Hayo…kenapa fer?"

"Ehm…enggak" Aku kikuk menjawab pertanyaan Dadan.

"Halah paling kamu melihat cewek itu kan!"

"Ehm…eng..enggak ah! Sory man gua Ikhwan, ghoddul Bashar gitu loh"

"Alah…alesan, aku tuh, siapa sih yang tak terpikat ketika melihat fitri!"

"Siapa dan? Fitri?"

"Iya dia tuh namanya Fitri, dia tingkat dua Ushuluddin."

Ooh…Fitri..Fitri..kini ternyata bidadari itu yang telah membuatku terbang dalam buaian kali ini?

"Kamu kenal Dan?"

"Ya kenallah cuman gak deket, eh sini-sini aku bisikin" " Dia tuh cewek keren lah, aktivis, Akhwat teladan pokoknya dijamin sholehah.. itu sih menurut penglihatanku""Eh BTW ada apa nih kamu nanya?"

"Oh hanya ingin tahu aja?

"Halah….hampir semua Lelalki di kairo kali.. mengharapakan wanita seperti dirinya." "Apalagi makhluk yang bernama Feri"

"Enak aja..kenal juga enggak!"

"Santai Bro, kalau jodoh gak bakal kemana!"

"iya, aku jadi ingat kata Fahri kalau setiap sesuatu pasti ada jodohnya"

"Yups..cup cup cup anak papah tak boleh sedih gitu" "Ya udah Ta'aruf sana berani ga?"

"Hem..Berani!"

"Eit eit tunggu bro jangan gegabah begitu, dia tuh muslimah yang baik pasti gak bakalan suka kalau kau main serobotan kayak begitu"

"Trus harus bagaimana?"

"Ehm..ya harus step by step." "Pertama mungkin kalau sekarang kamu langsung pengen kenalan, dia akan langsung menghindar lalu menghilang, karena menurut dia kamu terlalu jual murah"

"Trus gimana nih?"

" Ya udah biarkan dulu dia pergi, nanti pasti ketemu lagi"

"kapan bro? kapan? Belum tentu aku dan dia bisa bertemu lagi"

"Santailah dia tuh aktivis pasti selalu ada dalam setiap acara."

"Ooo..betul betul betul…! Masuk akal."

"Yah…dia pergi" Aku hanya bisa terpaku melihat kepergian sang bidadari hatiku manaiki bus, yang tegambar dalam benakku bagaikan kereta kencana berhiaskan cahaya kesucian seorang wanita yang tercipta sebagai makhluk tuhan yang paling indah bagiku. Aku berharapa kita akan bertemu lagi suatu hari nanti.

Bersambung


Tidak ada komentar: