Mengapa Manusia bisa menghitung hari, bulan dan tahun dengan tepat? Semua itu karena keteraturan putaran rotasi bumi pada sumbunya, serta gerakan evolusi bulan pada bumi dan evolusi bumi pada matahari. Itulah keteraturan jagat raya yang tunduk pada ketetapan Allah SWT. Begitupun seluruh unsur–unsur alam semesta lainnya, mulai dari planet, meteor, bintang hingga gerakan–gerakan terkecil seperti molekul dan atom semuanya bergerak secara teratur.
Melihat keteraturan pada alam semesta, sepatutnya kita menerapkan system keteraturan pada oraganisasi yang kita geluti. Namun dalam mengolah sebuah organisasi tidaklah cukup hanya dengan semangat yang membara, tapi dibutuhkan yang namanya bekerja secara cerdas serta menghemat waktu dengan menghasilkan value yang memuaskan.
Sebagaimana alam semesta yang teratur, yang mana tidak ada salah satu dari planet ataupun bintang ingin menonjolkan diri, maka dalam berorgamisasi maupun bekerja harus seperti itu. Kita bekerja secara team work, tidak ada yang ingin saling menonjolkan, serta bekerja for all. Seperti sebuah beton yang mana keberadaannya membuat kokoh sebuah bangunan namun dia tidak pernah menonjolkan diri. Dalam sebuah pepatah dikatakan "Jadilah engkau sebuah beton yang mengokohkan dan menjadi bagian terpenting walau tidak terlihat". Kita seharusnya bisa berbuat untuk bersama bukan untuk diri sendiri. Bergerak, bekerja, berbuat dan berfikir lebih banyak karena "Al–Barakatu fil Harakah Wal–Harakatu Fihal Barakah"." Keberkahan ada didalam pergerakan dan didalam pergerakan ada keberkahan".
Untuk merealisasikan hasil yang sempurna dalam pergerakan, kita harus berfikir cerdas dengan menggunakan system POACE (Planing, Organizing, Actuating, Controling and Evaluating). Kadang kita tidak pernah menyadari teori ini sudah pernah pernah kita dapatkan pada masa Tsanawiyah ataupun 'Aliyah, akan tetapi kesalahan kita adalah menghafal teori tersebut dengan kepala bukan dengan hati dan kita tidak pernah berlatih. Padahal, ini menyangkut kebiasaan dan kerakter yang harus diinternalisasi.
Begitu banyak pemahaman tentang teori pembangunan karakter, manajemen, buku-buku penuntun sukses yang telah dipelajari. Namun begitu banyak pula yang sudah dilupakan atau dihafal hanya sebatas teori dan tidak dipraktikan sama sekali. Akhirnya, ilmu-ilmu tersebut seharusnya digunakan, kita sering lupa. Tatkala diingatkan kembali, barulah kita menyesal. Sebuah peluang emas telah terlewatkan begitu saja, atau masalah yang seharusnya bisa dituntaskan, tidak mampu diselesaikan dengan baik.
Kecakapan, pada hakikatnya dapat dipandnag sebagai sekumpulan kebiasaan yang terkoordinasi, apa yang kita pikirkan, rasakan, lihat, dan kerjakan agar suatu tugas terlaksana. Pendapat ini sekiranya bisa menegaskan bahwa hakikat dari suatu kecakapan bukanlah hanya pada pemahaman, melainkan juga metode internalisasi kebiasaan.
Saya akan mengambil suatu pandangan tentang penciptaan karakter dari buku Stephen R Covey, "Taburlah gagasan, petiklah perbuatan, taburlah perbuatan, petiklah kebiasaan, taburlah kebiasaan, petiklah karakter, taburlah karakter, petiklah nasib". Artinya, untuk membangun karakter, tidak cukup hanya mambaca buku bahkan pelatihan saja, namun dibutuhkan sebuah mekanisme pelatihan yang terarah dan tiada henti secara berkesinambungan. DR. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi mengatakan: "I'imaluu faoqo ma 'amiluu" "bekerjalah lebih dari apa yang mereka kerjakan".
"……..Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negri akhirat dan jangan kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang–orang yang berbuat kerusakan" – Qs Al – Qashas 28:77.
Sebagai seorang muslim seyogyanya kita bisa menseting sebuah pergerakan yang berprinsip hanya kepada Allah SWT. Berniatkan segala sesuatu untuk ibadah. Dengan mempunyai niat untuk ibadah berarti kita telah menghubungkan hubungan Vertical dan Horizontal sekaligus. Yaitu hubungan antara hamba dengan Tuhannya dan hamba dengan hamba dalam satu pekerjaan. Hubungan Vertical dengan niat kita untuk ibadah hanya pada Allah semata dan hubungan Horizontal dengan amal perbuatan kita di organisasi.
Berorganisasi dan bekerja bukan berarti meninggalkan semuanya, namun ada saatnya kita berorganisasi, bekerja, ada saatnya belajar adapula saatnya beribadah kepada Allah SWT.
Banyak orang bingung dengan perasaannya sendiri, dan tidak mengenal lagi siapa dirinya. Bagi dirinya lingkungan luar lebih jelas dibandingkan dirinya sendiri, yang tidak mampu memahami wawasan batiniah dalam dirinya sendiri. Akhirnya ia menjadi buta dan tuli, tak mampu menjabarkan kawasan batinnya sendiri, akibatnya ia hanya dikemudikan oleh logika dan insting hewaninya saja (penyakit Aleksitimea). Namun melalui ibadah, kesadaran diri tentang kawasan batin tersebut akan disegarkan kembali. Ia menjadi mampu mengenal kembali siapa dirinya dan bagaimana suara hatinya. Radar batinnya seperti dihidupkan kembali. Ia kembali menjadi peka, karena hatinya kembali terbuka dan pegangan hidupnya kembali memancar dari dalam dirinya. Inilah yang kemudian menimbulkan rasa tentram di dalam hati, membuat dirinya terlindungi dari tekanan serta pengaruh lingkungan luar yang datang bertubi-tubi.
Inilah pemahaman tentang kesadaran diri untuk beribadah. Kesadaran bahwa ibadah itu bukanlah untuk Allah, tetapi justru untuk kepentingan manusia itu sendiri. Inilah tanda kasih sayang Allah yang telah mengkaruniakan ibadah sebagai suatu metode untuk mencapai ketentraman, kebahagiaa, dan alat pemeliharaan untuk keberhasilan dirinya sendiri dalam rangka menjalankan tugas sebagai khalifah di muka bumi. Allahu Akbar!
-Qs Al-ma'araj 70:19-23
Saatnya kini kita berbenah diri dalam berbagi waktu di organisasi, belajar, dan beribadah. Membagi sisa-sisa waktu kita di bumi ini sebaik mungkin untuk menggapai ridho Allah SWT.
Take time to READ, it is the foundation of Wisdom
Take time to QUIET, it is the opportunity top seek God
Take time to DREAM, it is the Future made of
Take time to PRAY, it is the Greatest Power on Earth
Wallahu'alam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar